Home
AgendaPengumumanPresensiContact
Home/Blog/Kebanksentralan
Kebanksentralan

Bank Indonesia Tegal Gelar Capacity Building dan Sarasehan UMKM 2026 untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Admin
06 November 2026 12 kali dibaca
Bank Indonesia Tegal Gelar Capacity Building dan Sarasehan UMKM 2026 untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal menyelenggarakan kegiatan Capacity Building dan Sarasehan UMKM 2026 sebagai upaya memperkuat daya saing, inovasi, dan ketahanan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Eks-Karesidenan Pekalongan. Kegiatan ini diikuti oleh pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai dari kerajinan, peternakan, hingga industri kreatif.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk respons terhadap perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi digital, serta persaingan pasar yang semakin ketat. Dalam sambutan pembukaan, perwakilan Bank Indonesia Tegal menyampaikan bahwa UMKM saat ini tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan untuk bertahan dalam menjalankan usaha. Pelaku usaha perlu berani berinovasi, memperluas jangkauan pasar, serta meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan.

Bank Indonesia Tegal menyampaikan empat pilar utama dalam upaya memperkuat UMKM agar lebih tangguh dan berdaya saing. Pilar pertama adalah membangun UMKM yang tangguh dan adaptif. Dalam merintis maupun mengembangkan usaha, pelaku UMKM kerap menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan modal, kendala pemasaran, hingga risiko kegagalan. Keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal awal, tetapi juga membutuhkan ketekunan, keberanian untuk bangkit menghadapi tantangan, serta tata kelola usaha yang profesional.

Pilar kedua adalah mendorong inovasi dan transformasi digital. Inovasi menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing UMKM di tengah perkembangan ekonomi modern. Upaya tersebut dapat dimulai dari peningkatan kualitas dan kemasan produk, efisiensi proses produksi, pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran, hingga penggunaan sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang mengedepankan prinsip Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Andal (CeMUAH). Bank Indonesia menekankan bahwa digitalisasi tidak hanya sebatas kepemilikan kode QRIS atau penggunaan marketplace, tetapi juga bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas pangsa pasar.

Pilar ketiga berfokus pada penguatan aspek keberlanjutan atau sustainability. Pengembangan usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Pelaku UMKM didorong untuk menggunakan sumber daya secara efisien, mengelola limbah dengan cara yang ramah lingkungan, serta memberdayakan tenaga kerja lokal sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas.

Pilar keempat adalah memperluas sinergi dan kemitraan kolaboratif. Pengembangan UMKM membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, perbankan, lembaga pendamping, dan asosiasi usaha. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan, meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas produk, serta membuka peluang bagi UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

KPw BI Tegal juga terus menjalankan program pendampingan sebagai bentuk komitmen dalam mendorong kemajuan ekonomi daerah yang inklusif. Salah satunya melalui program Digidaya UMKM (Digitalisasi untuk Peningkatan Daya Saing UMKM), yang berfokus pada peningkatan literasi digital pelaku usaha agar dapat memanfaatkan teknologi secara optimal dalam mengembangkan bisnis.

Kegiatan ini turut menghadirkan dua pelaku usaha inspiratif daerah sebagai narasumber, yaitu Bapak Mohamatan Muji selaku founder Mujijaya Farm yang bergerak di sektor peternakan dan Bapak M. Firmanda Ardiansyah selaku founder King Arfi Cemilan yang bergerak di sektor olahan kuliner. Keduanya berbagi pengalaman mengenai perjalanan membangun dan mengembangkan usaha, termasuk pentingnya ketangguhan mental, konsistensi, serta semangat pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis.

Sesi sarasehan menjadi ruang bagi para peserta untuk memperoleh wawasan langsung dari pengalaman para pelaku usaha. Melalui sesi tersebut, peserta diharapkan dapat saling bertukar pengalaman, memperluas relasi, serta membangun jejaring kemitraan bisnis.

Kegiatan ditutup dengan penegasan bahwa predikat UMKM naik kelas tidak hanya diukur dari besarnya skala usaha, tetapi juga dari konsistensi pelaku usaha dalam belajar, beradaptasi, dan berinovasi. Semangat tersebut sejalan dengan tema “UMKM Tangguh, UMKM Inovatif, UMKM Berdaya Saing”.

Bank Indonesia Tegal bersama seluruh pemangku kepentingan optimistis dapat terus mendukung pengembangan UMKM di wilayah Eks-Karesidenan Pekalongan agar semakin berdaya saing dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.


Bagikan:WhatsApp